Seputar Quranic Power

Selama ini pembagian Al-Qur’an ke dalam 30 Juz dianggap sesuatu yang biasa. Juz tidak punya makna lain selain sebatas makna sederhana yang biasanya dipahami orang-orang. Akan tetapi, setelah diteliti ternyata pembagian Juz–termasuk pola, format dan penyusunan Al-Qur’an–memiliki target, misi, dan kekuatan mu’jizat yang syarat dengan database manusia. Kreativitas Tuhan dalam pembagian Al-Qur’an menjadi 30 Juz bukanlah keisengan tanpa tujuan. Pada susunan & pembagian 30 Juz tersebut, kita akan temukan mu’jizat ilmu pengetahuan yang juga syarat potensi supranatural–sama dengan potensi Kitab Zabur yang digunakan pengikut Nabi Sulaiman untuk memindahkan singgasana Ratu Bilqis hanya dalam waktu kedipan mata.

QUR’ANIC POWER adalah sebuah konsep untuk mengakses berbagai database manusia pada Al-Qur’an. Telah ratusan kasus yang mendapatkan jalan keluar melalui pendekatan Qur’anic Power. Mulai dari penyakit kronis yang tiada kunjung sembuh, anak bermasalah, permasalahan keluarga, problematika usaha, kerja dan lain sebagainya.


Awal Mula QURANIC POWER
  • Tanggal 6-6-2006
  • Diprakarsai oleh Ustadz Agus Suryaman bersama 4 orang pendiri lainnya
  • Awal berdiri, Quranic Power hanya melayani permintaan pribadi, baik untuk pelatihan maupun analisis & konseling.
  • Seiring berjalannya waktu, kami yakin bahwa program kami bermanfaat bagi semua orang, sehingga kami mulai memperkenalkan program–program kami ke berbagai instansi maupun sekolah.
Apa itu QURANIC POWER ?
Adalah Lembaga Independen yang bergerak di bidang Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia dengan basis (fenomena bilangan & keajaiban) Al-Qur’an atau konsep Quranic Power.
Latar Belakang
Dengan mudah Anda akan menemukan berbagai iklan yang menawarkan solusi instan atas berbagai persoalan kehidupan, mulai dari urusan dikejar hutang, anak bermasalah, perselingkuhan, belum dapat jodoh serta berbagai permasalahan pelik lainnya. Tidak sedikit dari mereka mengambil solusi instan seperti perdukunan, walaupun mereka tahu solusi yang ditawarkan itu melibatkan jin sekalipun.
Berawal dari sana, Ust. Agus Suryaman melihat banyaknya kaum muslimin yang tidak menyadari dan meyakini bahwa ada cara ajaib dan luar biasa yang bisa dilakukan dengan tidak merujuk kepada kekuatan jin, kekuatan yang sangat berisiko menggugurkan keimanan. Cara atau metode ajaib ini adalah dengan mengakses energi kekuatan Al-Qur’an yang tak terbatas. Al-Qur’an sendiri menegaskan betapa kekuatan gaib yang dimiliki Jin tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan yang diakses dari Kitab Allah? Jika Kitab Suci yang eksis pada saat Nabi Sulaiman—sebagaimana kisahnya termaktub pada Surat An-Naml ayat 38-40—memiliki potensi kekuatan supranatural dan diperbolehkan untuk diaksesnya, maka mengapa kita meragukan potensi itu ada pada Kitab Suci yang paling sempurna. Mengapa seringkali kita memandang akses kekuatan Al-Qur’an untuk sesuatu yang bersifat supranatural sebagai tindakan yang salah, keliru atau dianggap sebagai penyimpangan dari ajaran Islam? Bukankah sikap syukur atas singgasana yang muncul dihadapan dirinya karena kemampuan orang yang memanfaatkan ilmunya dari Kitab Allah pada masa itu menunjukkan bolehnya hukum memberdayakan potensi ghaib yang dimiliki Kitab Allah, termasuk Al-Qur’an.
Sayang sekali, masih banyak pemahaman yang muncul justru menyebabkan fungsi Al-Qur’an sebagai kitab yang memiliki potensi energi yang maha dahsyat (potensi gaib atau supranatural) tidak disadari oleh banyak kaum muslimin sehingga persoalan mereka banyak dilarikan kepada paranormal atau orang pintar yang jelas-jelas kekuatannya merujuk kepada Jin serta jauh dari cahaya Islam. Mereka seringkali menganggap pemahaman akan adanya kekuatan gaib pada Al-Qur’an sebagai tindakan yang keliru, sesat, melecehkan Al-Qur’an, serta tidak sedikit yang menilai sebagai tindakan syirik. Padahal sudah sangat jelas bukti-ada begitu banyak bukti Nash yang menunjukkan adanya kekuatan gaib pada Al-Qur’an. Bukti-bukti Nash ini sangat sulit ditolak.
Memang betul Al-Qur’an adalah Kitab Petunjuk untuk umat manusia namun bukan berarti Al-Qur’an tidak memiliki fungsi lainnya, seperti mukjizat abadi. Apa itu mukjizat? Mukjizat adalah kekuatan yang mengalahkan. Seluruh Nabi dibekali mukjizat untuk mengalahkan siapapun sehingga mereka yang menyaksikannya mengakui kebenaran risalah dan nubuwahnya serta mengakui Allah sebagai Tuhan yang Esa dan Maha Kuasa. Itulah fungsi mukjizat, yaitu sebagai kekuatan yang menakjubkan sehingga menyebabkan siapapun yang menyaksikannya terpesona dan takluk pada kebenaran. Jika Al-Qur’an kita akui dan imani sebagai mukjizat abadi maka seharusnya kita mengakui bahwa ada kekuatan ajaib yang menaklukkan siapapun yang menyaksikan (mukjizat) Al-Qur’an.
Di era yang semakin kompleks ini, kebanyakan manusia didominasi oleh kesadaran fisik sehingga mengabaikan potensi kesadaran spiritual yang sangat dibutuhkan untuk meraih kebahagiaan. Pada saat yang sama, budaya olah spiritual yang bersumber dari agama lain sering menjadi pilihan, yang tentu saja sangat dikhawatirkan jika terjadi penyimpangan aqidah. Sering kali ketika seseorang ingin sehat, atau ingin mengembangkan potensi diri atau membentengi diri, ia justru “lari” ke Yoga atau sejenisnya. Padahal Budaya Islam telah banyak melahirkan metode tertentu, yang tentu saja tidak ada penyimpangan dari aqidah Islam.
Menyadari begitu pentingnya kesehatan, penyembuhan diri, pengembangan potensi diri serta keselamatan dari berbagai kejahatan dan pentingnya metode praktis yang tidak keluar dari tuntunan Islam, maka kami merasa perlu untuk menyebarkan Konsep Quranic Power sebagai solusinya.
Konsep Quranic Power meyakini bahwa Al-Qur’an selain sebagai petunjuk bagi umat manusia, ia juga memiliki fitur-fitur lainnya. Kami melihat diantara fitur-fitur Al-Qur’an tersebut adalah sebagai Syifa (obat) dan sumber energi (kekuatan supranatural) yang maha dahsyat yang dapat diakses oleh manusia serta sebagai pusat data potensi manusia (database). Dari pemikiran inilah, kami merasa perlu untuk mengenalkan (menyebar-luaskan) konsep Quranic Power.
%d bloggers like this: